Jakarta, Indo Fokus — PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) menjalin kerja sama strategis dengan Singapore LNG (SLNG) untuk mengembangkan biometan berbahan baku limbah biogas dari pabrik kelapa sawit. Kolaborasi ini diarahkan memenuhi kebutuhan pasokan energi rendah karbon domestik sekaligus pasar ekspor.
CEO Pertamina NRE Jon Anis menyatakan kerja sama tersebut menggabungkan ketersediaan bahan baku dari Indonesia dengan kesiapan pasar dan terminal rendah karbon milik Singapura. Menurutnya, masing-masing pihak membawa keunggulan yang saling melengkapi.
"Mereka punya market, kita punya feedstock dalam hal ini bahan baku, dan kita nanti juga punya teknologi, kita kerja samakan bersama-sama sehingga saling menguntungkan," ujar Jon Anis di sela acara 51st ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE) di The Meru Sanur, Bali.
Jon Anis menjelaskan, pengembangan biometan ini memperkuat strategi pertumbuhan ganda perusahaan, khususnya pada lini bisnis rendah karbon. Sinergi itu mempercepat komersialisasi produk tanpa perlu membangun pasar secara mandiri dari awal.
"Jadi dual growth strategi kita justru akan sangat terbantukan dan akan lebih cepat lagi. Karena kita enggak nyari sendiri market-nya atau kita enggak develop sendiri teknologinya," katanya.
Potensi dari 27 Pabrik Sawit di Empat Klaster Sumatra
Soal kesiapan bahan baku, PNRE telah memetakan potensi dari sekitar 27 pabrik kelapa sawit di Sumatra yang terbagi dalam empat klaster utama. Klaster tersebut meliputi Sumatra Utara, Riau, Jambi, serta Lampung dan Palembang.
Studi kelayakan proyek dinilai menunjukkan kemajuan. Perusahaan tengah mematangkan rencana transportasi dan transmisi biometan, baik melalui jaringan pipa maupun truk darat, serta menargetkan pengamanan surat minat dengan para pembeli.
"Sementara kita mematangkan detail study-nya untuk nanti pembangunan pabriknya yang ada di dekat perusahaan-perusahaan atau pabrik-pabrik dari kelapa sawit," jelasnya.
Bila lokasi pabrik biometan terlalu jauh dari jaringan pipa eksisting, pihaknya menyiapkan skema virtual transfer atau pertukaran molekul. Biometan yang diproduksi disalurkan ke kebutuhan domestik terdekat, sementara volume gas setara dari lokasi lain dialirkan melalui pipa menuju pasar ekspor.
"Jadi nanti bisa aja misalkan gas yang dari tempat lain kita alirkan melalui pipa yang sama ke market yang sudah ada, tapi itu adalah sebenarnya menggantikan kayak swapping gitu ya gas yang kita produksikan. Jadi itu ada mekanismenya lah yang disebut virtual transfer," tandasnya.
Bagi masyarakat lokal di sentra sawit Sumatra, proyek ini membuka peluang baru. Limbah pabrik kelapa sawit yang selama ini menjadi beban lingkungan berpotensi berubah menjadi sumber energi bernilai ekonomi, sekaligus menambah aktivitas ekonomi di sekitar pabrik.