Harga minyak dunia yang menembus level US$115-116 per barel menjadi tekanan baru bagi perekonomian global. Di tengah lonjakan tersebut, Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berperan sebagai peredam gejolak ekonomi, terutama saat ketidakpastian global meningkat.
"APBN itu menstabilkan. APBN tidak membiarkan kondisi ekonomi menjadi terlalu fluktuatif. Konsumsi masyarakat kita stabilkan," ujar Suahasil dalam sesi tanya jawab di acara Danantara TIIF 2026, Senin (26/10/2026).
Menurut Suahasil, salah satu fungsi utama APBN adalah menjaga stabilitas agar gejolak global tidak langsung mengganggu aktivitas ekonomi dan konsumsi masyarakat. Ia mencontohkan, ketika harga minyak dunia berada di kisaran US$115-116 per barel, sejumlah produk bersubsidi di Indonesia tetap dipertahankan harganya.
"Supaya apa? Supaya kegiatan ekonomi bisa terus berlanjut," katanya.
Kebijakan tersebut menunjukkan peran APBN sebagai instrumen stabilisasi. Namun, menjaga harga energi dan barang bersubsidi di tengah kenaikan harga minyak juga membutuhkan dukungan anggaran yang memadai. Di sisi lain, Suahasil menekankan kemampuan pemerintah membiayai pembangunan dan menjalankan kebijakan fiskal sangat bergantung pada penerimaan negara.
Ia mengingatkan pemerintah tidak bisa hanya menyusun daftar kebutuhan belanja tanpa memastikan sumber pendanaannya. Penerimaan negara harus dikumpulkan agar berbagai program dan pengeluaran pemerintah dapat dibiayai.
"Tidak bisa kemudian kita punya daftar keinginan, tapi kemudian tidak ada penerimaan negara. Penerimaan negaranya harus kita kumpulkan," tegasnya.
Suahasil menyebut Kementerian Keuangan menargetkan penerimaan negara sekitar Rp3.400 triliun pada 2027, untuk membiayai belanja negara yang diperkirakan sekitar Rp4.000 triliun. Dengan demikian, ketahanan APBN tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pemerintah menjaga harga barang bersubsidi, tetapi juga oleh kapasitas mengumpulkan penerimaan serta mengelola belanja secara efektif.
Bagi masyarakat lokal, kebijakan ini menjadi penopang daya beli di tengah tekanan harga energi global. Stabilitas harga barang bersubsidi dinilai krusial agar aktivitas ekonomi sehari-hari, terutama sektor transportasi dan usaha kecil, tidak terganggu lonjakan minyak dunia.