Pemerintah mendapat sinyal positif dari kalangan investor global yang berminat menanamkan modal di sektor hulu minyak dan gas bumi Indonesia. Syaratnya, ada penyesuaian regulasi fiskal dan insentif yang membuat imbal hasil investasi dalam negeri mampu bersaing dengan negara lain.
Hal itu disampaikan Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza di sela acara 51st ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE) di The Meru Sanur, Denpasar, Bali, Selasa. Menurut Oki, pemerintah perlu lebih dulu memberikan kepastian skema fiskal sebelum menawarkan peluang kepada investor.
Return Menentukan Minat Investor
Oki menegaskan, daya tarik utama bagi investor dunia adalah keuntungan. Karena itu, advokasi ke pemerintah untuk mendapatkan fiskal yang tepat menjadi langkah awal yang harus dilakukan Pertamina. "Yang paling penting dari sebuah investasi adalah return-nya. Semua investor di seluruh dunia berlomba-lomba untuk mendapatkan return terbaik," katanya.
Selain kepastian fiskal, insentif atau sweetener juga dibutuhkan di sepanjang rantai kegiatan hulu migas. Insentif itu mulai dari survei seismik, pengeboran awal untuk mengejar penemuan cadangan, pengembangan lapangan agar masuk skala keekonomian, hingga tahap komersialisasi hidrokarbon.
Target 1 Juta Barel pada 2030
Penyesuaian iklim investasi hulu dinilai penting untuk mengejar target produksi minyak mentah domestik sebesar 1 juta barel per hari pada 2030. Untuk mendukung target itu, Pertamina mengalokasikan sekitar 75 persen belanja modal atau capex ke sektor hulu migas.
Dana tersebut antara lain diarahkan ke pengembangan proyek migas non-konvensional di Rokan yang berpotensi mencapai 11 miliar barel. Perusahaan juga mempercepat pengembangan temuan sumur Padang Pancuran, Jambi Merang, dengan potensi sekitar 1 miliar barel.
Peluang Bagi Ekonomi Daerah
Bagi masyarakat di sekitar wilayah kerja, masuknya investasi hulu migas berpotensi berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja lokal, pertumbuhan usaha jasa penunjang, serta penerimaan daerah. Namun, manfaat itu baru akan terasa jika kegiatan eksplorasi dan pengembangan benar-benar berjalan sesuai jadwal.
Pertamina menyatakan membuka ruang kolaborasi bagi mitra global, baik dari kawasan ASEAN maupun negara mitra ASEAN+3, untuk berinvestasi bersama di Indonesia. "Fiskal menjadi sangat penting agar Indonesia atraktif bagi investor dunia," ujar Oki.