Jakarta—Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama perekonomian Indonesia pada kuartal II-2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen secara year on year, dengan konsumsi rumah tangga tumbuh 2,67 persen dan berkontribusi 53,32 persen terhadap produk domestik bruto.
"Pada triwulan II ini, konsumsi rumah tangga masih menjadi sumber pertumbuhan terbesar, yakni sebesar 2,67 persen," kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, Senin (26/10/2026). Angka itu menegaskan daya beli masyarakat tetap tinggi, terutama pada momentum libur hari raya dan hari besar keagamaan.
Dampaknya terasa pada sejumlah sektor usaha. Restoran dan hotel tumbuh 6,47 persen, sedangkan transportasi dan komunikasi tumbuh 5,71 persen. Kuatnya daya beli juga tercermin dari transaksi QRIS yang terus meningkat di atas 100 persen, seiring peralihan transaksi ke ruang digital.
Bagi masyarakat lokal, pertumbuhan ini berarti lapangan kerja di sektor jasa dan perdagangan masih terbuka. Namun, tantangannya adalah menjaga momentum agar daya beli tidak tergerus oleh tekanan harga dan ketidakpastian ekonomi global. Pelaku usaha konsumer dituntut terus berinovasi agar tetap bertahan dan menyerap tenaga kerja di daerah.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap perusahaan yang mampu tumbuh di tengah dinamika tersebut, sebuah ajang penghargaan bagi pelaku industri konsumer akan digelar pada Kamis, 29 Oktober 2026 pukul 15.00 WIB. Rangkaian acara ini menjadi penanda bahwa sektor konsumsi masih menjadi tulang punggung ekonomi yang layak mendapat perhatian.