Industri logistik nasional sepanjang tahun 2026 masih mencatatkan pertumbuhan. Namun, dalam dua hingga tiga bulan terakhir, tekanan daya beli yang meningkat turut menurunkan volume pengiriman barang. Kondisi ini dirasakan langsung oleh pelaku usaha logistik, termasuk di daerah, yang kini harus berhitung ulang untuk menjaga kelangsungan bisnis.
Direktur Utama Paxel, Zaldy Ilham Masita, mengungkapkan bahwa bisnis logistik di akhir tahun 2026 menghadapi sejumlah tantangan berat. Gejolak perang di Timur Tengah memicu kenaikan harga sekaligus kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Ditambah lagi, bencana alam di berbagai wilayah mengganggu proses distribusi barang dan melonjakkan biaya operasional.
Di sisi lain, operator logistik tidak bisa serta-merta mengonversi kenaikan biaya operasional ke tarif pengiriman di pelanggan. Tekanan ekonomi membuat masyarakat dan pelaku usaha menahan pengeluaran. Akibatnya, margin keuntungan pelaku usaha logistik harus rela tergerus.
Bencana Alam Perparah Gangguan Distribusi
Selain gejolak global, bencana kebakaran hutan dan lahan, erupsi Gunung Merapi, hingga banjir turut menjadi tantangan bisnis logistik. Kondisi ini membuat akses jalan hingga penerbangan terganggu. Barang-barang yang dibutuhkan masyarakat, seperti obat dan alat kesehatan, justru harus tetap sampai di tengah keterbatasan akses.
Bagi masyarakat lokal, situasi ini berdampak pada potensi keterlambatan pasokan barang kebutuhan pokok dan layanan kesehatan. Pelaku logistik di daerah dituntut lebih cekatan mengatur rute dan mencari solusi alternatif agar distribusi tetap berjalan tanpa membebani konsumen dengan tarif yang melonjak.
Zaldy menegaskan bahwa tantangan ini memaksa pelaku usaha logistik untuk terus beradaptasi. Pertumbuhan industri yang masih terjaga sepanjang tahun menjadi modal penting, tetapi tekanan daya beli dan biaya operasional yang tinggi menjadi ujian tersendiri menjelang akhir tahun.