Pemerintah Filipina resmi mengumumkan sayembara berhadiah uang tunai sebesar US$786.000 atau setara Rp14,1 miliar untuk menangkap Senator Ronald "Bato" Dela Rosa. Mantan kepala kepolisian Filipina itu kini berstatus buronan setelah Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terkait operasi pembantaian antinarkoba era Presiden Rodrigo Duterte.

Menteri Dalam Negeri Filipina, Juanito Victor Remulla, menyatakan bahwa Dela Rosa kini dikategorikan sebagai ancaman tinggi. "Mulai hari ini, Senator Bato akan dianggap bersenjata dan berbahaya," ujarnya seperti dikutip dari kantor berita AFP, Jumat (23/10/2026). Ia menambahkan bahwa Dela Rosa hanya menunjukkan sikap pengecut dengan bersembunyi dan menegaskan sudah saatnya membawa keadilan bagi para korban.

Sayembara ini diberlakukan sekitar sebulan sebelum Duterte dijadwalkan menghadapi sidang pada 30 November mendatang atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan. Duterte sendiri telah ditangkap di Manila pada 11 Maret tahun lalu dan diserahkan ke ICC untuk ditahan di Den Haag.

Dela Rosa sempat muncul dari persembunyiannya pada 11 Mei lalu dengan berlindung di gedung Senat. Namun, ia berhasil melarikan diri beberapa hari kemudian setelah terjadi kebuntuan yang diwarnai baku tembak antara penjaga keamanan dan para penyelidik yang berusaha menangkapnya.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

ICC menetapkan Dela Rosa sebagai salah satu dari delapan rekan pelaku dalam tindakan keras narkoba mematikan selama masa kepresidenan Duterte sejak 2016. Di antara rekan pelaku lain yang disebut adalah Senator aktif Christopher Lawrence Go, meskipun belum ada surat perintah penangkapan yang dirilis untuknya.

Kepala Kepolisian Filipina, Jose Melencio Nartatez, menduga Dela Rosa saat ini tengah dilindungi oleh kelompok bersenjata atau simpatisan setianya. Sebuah satuan tugas khusus telah dibentuk pemerintah untuk melacak keberadaannya dan menyerahkannya langsung kepada ICC. "Mereka yang berani melindunginya harus bersiap menanggung konsekuensinya," tegas Nartatez.

Kepolisian Filipina mengeklaim telah menewaskan lebih dari 6.000 tersangka narkoba dengan alasan membela diri selama masa kepresidenan Duterte yang berakhir pada 2022. Duterte kini menghadapi tiga tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan atas dugaan keterlibatan dalam 76 pembunuhan, meski pengacara korban meyakini jumlah aslinya mencapai ribuan nyawa.