Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis) menjadi satu-satunya spesies badak Asia yang memiliki dua cula. Satwa dengan ciri khas rambut kasar berwarna cokelat kemerahan ini kini hanya bertahan di sejumlah kawasan hutan di Pulau Sumatra dan Kalimantan, dengan populasi di alam liar diperkirakan tinggal sekitar 40 individu.

Status kritis tersebut membuat badak Sumatra masuk dalam kategori Critically Endangered atau kritis berdasarkan daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Ancaman utama datang dari kehilangan habitat, perburuan ilegal, dan sulitnya perkembangbiakan.

Bagi masyarakat lokal di sekitar kawasan hutan, keberadaan badak Sumatra menjadi penanda pentingnya menjaga ekosistem. Satwa ini membutuhkan akses ke sumber air, tempat berkubang, sumber makanan, serta sumber mineral alami yang dikenal sebagai salt lick. Kelestarian habitat tidak cukup hanya dengan mempertahankan pepohonan, tetapi juga memastikan semua kebutuhan tersebut tersedia.

Fakta Unik Badak Sumatra

Sebagai spesies badak terkecil di dunia, tinggi badak Sumatra hanya sekitar 1 hingga 1,5 meter pada bagian bahu dengan bobot mencapai 600 hingga 950 kilogram. Ukuran tubuhnya yang relatif kecil membantu satwa ini bergerak di lingkungan hutan rapat.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Berbeda dari badak Jawa dan badak India yang hanya memiliki satu cula, badak Sumatra memiliki dua cula di bagian depan kepala. Cula depan lebih panjang, sedangkan cula belakang lebih pendek dan terkadang hanya tampak seperti tonjolan kecil. Cula tersebut tersusun dari keratin, protein yang juga membentuk rambut dan kuku manusia, dan dapat terus tumbuh sepanjang hidup badak.

Badak Sumatra juga dikenal sebagai badak berbulu karena tubuhnya ditutupi rambut kasar. Rambut tersebut lebih lebat ketika masih muda dan menjadi lebih jarang seiring bertambahnya usia. Secara evolusi, badak Sumatra memiliki hubungan kekerabatan dekat dengan badak berbulu purba yang telah punah.

Reproduksi Lambat dan Tantangan Konservasi

Badak Sumatra umumnya hidup menyendiri. Badak dewasa mencari makan dan menjelajahi wilayahnya sendiri, meskipun tetap berinteraksi dengan individu lain terutama saat masa kawin. Induk betina hidup bersama anaknya selama masa pengasuhan.

Masa kehamilan badak Sumatra diperkirakan berlangsung sekitar 15 hingga 16 bulan dengan satu anak per kelahiran. Proses reproduksi yang panjang membuat pertambahan populasi berlangsung lambat, terlebih ketika jumlah individu yang tersisa sangat sedikit dan tersebar di kawasan hutan yang terpisah-pisah.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Untuk mencegah kepunahan, perlindungan hutan, patroli antiperburuan, pemantauan populasi, dan program perkembangbiakan terkelola menjadi langkah penting yang perlu dilakukan secara berkelanjutan. Masyarakat lokal memiliki peran strategis dalam menjaga kawasan hutan tempat badak Sumatra bertahan hidup.