Spirulina, mikroorganisme hijau-biru yang kini populer sebagai superfood, ternyata bukan komoditas baru. Mikroalga ini telah dimanfaatkan peradaban kuno sejak abad ke-16 sebagai sumber pangan utama, jauh sebelum dikenal sebagai suplemen modern.

Secara biologis, spirulina adalah sianobakteri (cyanobacteria) bersel tunggal berbentuk spiral dari genus Arthrospira, terutama spesies Arthrospira platensis dan Arthrospira maxima. Organisme ini tumbuh subur di danau tropis dan subtropis dengan kadar garam tinggi atau danau alkali. Lingkungan dengan pH tinggi memungkinkan spirulina berkembang pesat tanpa gangguan mikroorganisme lain.

Jejak Sejarah di Dua Benua

Penggunaan spirulina sebagai pangan manusia tercatat di dua belahan dunia berbeda. Di Meksiko, masyarakat Aztek pada abad ke-16 memanen spirulina dari Danau Texcoco. Mereka mengeringkan mikroalga ini dan mengolahnya menjadi kue berwarna hijau kekuningan bernama Tecuitlatl. Makanan ini menjadi sumber protein penting bagi para prajurit dan masyarakat lokal.

Sementara itu, di wilayah Danau Chad, Afrika Tengah, masyarakat Kanembu telah lama memanen mikroalga dari genangan air alkali. Mereka mengeringkannya di atas pasir hingga keras dan membentuknya menjadi makanan bernama Dihé, yang disantap bersama sup atau sayuran.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Dari Penelitian ke Panggung Dunia

Popularitas spirulina di dunia modern dimulai pada 1960-an ketika ahli botani asal Prancis, Jean Leonard, meneliti keberadaan Dihé di pasar-pasar tradisional Chad. Penelitian itu mengungkap kandungan nutrisi luar biasa, seperti protein tinggi mencapai 60–70 persen dari berat kering, asam amino esensial, zat besi, beta-karoten, serta senyawa antioksidan fikosianin.

Pada 1970-an, badan PBB seperti FAO dan WHO mulai mempromosikan budidaya spirulina sebagai solusi potensial untuk mengentaskan kelaparan dan malnutrisi global. Bahkan, NASA dan European Space Agency mengevaluasi spirulina sebagai tanaman potensial untuk mendukung nutrisi astronaut dalam misi jangka panjang.

Bagi masyarakat lokal di berbagai negara, spirulina menawarkan peluang ekonomi baru melalui budidaya dan pengolahan. Namun, pengembangan industri ini perlu memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan komunitas setempat agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata.