PEKANBARU – Pemerintah Kota Pekanbaru mendorong pondok pesantren di wilayahnya memanfaatkan lahan kosong untuk kegiatan pertanian produktif. Panen raya jagung pipil di Pondok Pesantren Khairul Ummah 2, Kelurahan Sekip, Kecamatan Limapuluh, Jumat (30/10), dijadikan proyek percontohan bagi pesantren lain yang memiliki lahan serupa.

Wakil Wali Kota Pekanbaru Markarius Anwar hadir langsung dalam panen tahap kedua tersebut. Menurutnya, kegiatan pertanian di lingkungan pesantren dapat menjadi model bagi pondok pesantren lain yang masih memiliki lahan kosong. "Kegiatan pertanian di lingkungan pesantren kami harapkan dapat menjadi proyek percontohan bagi pondok pesantren lainnya yang masih memiliki lahan kosong," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (31/10).

Panen jagung pipil tersebut merupakan panen tahap kedua yang dilakukan pihak pesantren. Sebelumnya, pesantren telah memanen jagung manis. Markarius menegaskan pemanfaatan lahan untuk pertanian tetap dapat dilakukan meskipun luas area yang tersedia terbatas. Pesantren dapat menanam berbagai komoditas produktif, seperti jagung dan kacang tanah.

Pemkot Pekanbaru menyatakan kesiapan mendukung pengembangan pertanian di lingkungan pesantren melalui kerja sama dengan kelompok tani di sekitar lokasi. Dukungan tersebut antara lain diberikan melalui peminjaman alat pertanian untuk mengolah lahan. Selain itu, Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Pekanbaru telah menyalurkan bantuan pupuk untuk tanaman jagung pipil di pesantren tersebut.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan pertanian di Pondok Pesantren Khairul Ummah 2 melibatkan kelompok tani sebagai pendamping. Kelompok tani membantu proses pengolahan lahan dan penanaman, sedangkan pihak pesantren menyediakan lahan. "Pesantren tidak bekerja sendiri. Ada kelompok tani yang mendampingi dan membantu pengolahan lahan. Alat-alatnya juga kami bantu. Inilah bentuk kolaborasi antara pondok pesantren, kelompok tani, dan pemerintah," pungkas Markarius.

Bagi masyarakat sekitar, langkah ini tidak hanya menggerakkan sektor pertanian perkotaan, tetapi juga membuka peluang kolaborasi antara pesantren dan kelompok tani setempat. Warga berharap model serupa dapat diterapkan di lingkungan pendidikan lain sehingga lahan kosong di tengah kota tetap produktif dan memberi manfaat ekonomi bagi komunitas lokal.