YOGYAKARTA — Prioritas belanja rumah tangga miskin di Indonesia masih menjadi persoalan serius bagi kesehatan masyarakat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan pengeluaran untuk konsumsi rokok kerap melampaui belanja bahan pangan bergizi tinggi seperti telur, susu, dan daging.

Fenomena ini mendapat sorotan Pakar Promosi Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yayi Suryo Prabandari. Ia menegaskan pergeseran prioritas belanja tersebut berdampak langsung pada ancaman stunting atau gagal tumbuh pada anak.

"Jelas memberikan dampak besar pada pemenuhan gizi keluarga. Sayangnya, di tingkat rumah tangga, tidak semua ibu memiliki daya tawar untuk mengatur alokasi anggaran belanja saat suami menjadi satu-satunya pencari nafkah," ujar Yayi, Senin (2/11/2026).

Yayi menjelaskan hasil kajian menunjukkan kebiasaan merokok paling tinggi justru ditemukan pada kelompok masyarakat miskin dan sangat miskin. Bagi kelompok ini, rokok kerap diposisikan sebagai sarana hiburan di tengah tekanan ekonomi, meski harus mengorbankan pemenuhan gizi anak-anak mereka.

Dampaknya tidak main-main. Anak-anak dari keluarga dengan prioritas belanja yang salah berisiko lebih besar mengalami gagal tumbuh, yang berpengaruh pada masa depan generasi mendatang. Persoalan ini menjadi pekerjaan rumah bersama, terutama di daerah dengan angka kemiskinan yang masih tinggi.

Menurut Yayi, upaya memutus rantai adiksi rokok tidak cukup hanya mengandalkan imbauan dari tenaga kesehatan. Diperlukan pendekatan berbasis pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan tokoh-tokoh lokal yang dipercaya, seperti lurah, pengurus RT/RW, hingga tokoh agama.

Pendekatan itu dinilai lebih efektif karena menyentuh langsung pola pikir dan kebiasaan warga di tingkat akar rumput. Tanpa keterlibatan tokoh lokal, kampanye antirokok dan edukasi gizi dikhawatirkan hanya berhenti sebagai formalitas semata.

Bagi masyarakat, temuan ini menjadi cermin pentingnya mengatur prioritas belanja keluarga. Kesehatan dan gizi anak semestinya berada di atas konsumsi rokok, terutama di tengah keterbatasan ekonomi. Perubahan pola pikir di tingkat rumah tangga menjadi kunci untuk memutus mata rantai stunting dan meningkatkan kualitas hidup generasi penerus.