Seluruh populasi badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) di dunia kini hanya bertahan di satu kawasan, yakni Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Konsentrasi tunggal ini menjadikan masyarakat sekitar sebagai garda terdepan dalam menjaga kelestarian satwa yang masuk kategori kritis atau Critically Endangered tersebut.
Ketergantungan pada satu lokasi membuat badak Jawa sangat rentan terhadap ancaman eksternal. Gangguan besar seperti wabah penyakit atau bencana alam berpotensi memengaruhi kelangsungan hidup seluruh spesies. Bagi warga pesisir Banten, kondisi ini menuntut kewaspadaan bersama karena kelestarian habitat berbanding lurus dengan keseimbangan ekosistem setempat.
Badak Jawa memiliki ciri khas yang membedakannya dari badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis), satu-satunya spesies badak Asia bercula dua. Badak Jawa umumnya hanya memiliki satu cula pendek di bagian depan kepala. Pada individu betina, cula sering kali sangat kecil atau bahkan tidak terlihat. Cula tersusun dari keratin, protein yang sama dengan pembentuk rambut dan kuku manusia, bukan tulang.
Dari segi ukuran, badak Jawa lebih besar dibandingkan badak Sumatra. Tinggi bahunya mencapai sekitar 1,4 hingga 1,7 meter dengan bobot berkisar 900 hingga 2.300 kilogram. Sementara badak Sumatra, yang dikenal sebagai spesies badak terkecil di dunia, memiliki tinggi 1 hingga 1,5 meter dan bobot 600 hingga 950 kilogram.
Perbedaan lain terlihat pada kulit dan rambut. Badak Sumatra memiliki rambut kasar berwarna cokelat kemerahan yang cukup terlihat, terutama pada individu muda, sehingga kerap disebut badak berbulu. Badak Jawa hampir tidak memiliki rambut saat dewasa, dengan kulit abu-abu kecokelatan dan lipatan menyerupai tameng pelindung, terutama di bagian leher dan bahu.
Bentuk bibir juga menjadi pembeda. Badak Jawa memiliki bibir atas panjang dan meruncing seperti jari yang membantunya meraih daun, pucuk, serta ranting muda. Adapun badak Sumatra memiliki kepala relatif kecil dengan moncong yang sesuai untuk menjangkau berbagai jenis tumbuhan di hutan.
Meski berbeda, kedua spesies menghadapi persoalan serupa. Badak Sumatra menghadapi kerusakan habitat, perburuan ilegal, dan kesulitan menemukan pasangan karena populasinya terpisah-pisah dalam kelompok kecil di Sumatra dan Kalimantan. Siklus reproduksi kedua spesies pun lambat, dengan masa kehamilan sekitar 15 hingga 16 bulan dan umumnya melahirkan satu anak.
Upaya pelestarian membutuhkan perlindungan habitat, patroli antiperburuan, pemantauan populasi, dan penelitian berkelanjutan. Dukungan masyarakat dapat diwujudkan dengan tidak membeli produk dari satwa dilindungi serta mendukung lembaga konservasi terpercaya. Bagi warga Ujung Kulon, menjaga hutan berarti menjaga masa depan badak Jawa yang tidak tergantikan.