Pemilu Sela Amerika Serikat menjadi ujian besar bagi mantan Presiden Donald Trump dan Partai Republik. Sejumlah kekalahan yang diprediksi akan mereka alami dinilai bisa mempercepat berakhirnya era keemasan gerakan MAGA (Make America Great Again).

Dinamika paling mencolok terlihat di Texas, negara bagian yang tidak pernah dimenangkan politisi Demokrat sejak 1994. Kini, James Talarico, mantan guru sekolah negeri, mengambil langkah berani menantang Jaksa Agung Texas dari Partai Republik, Ken Paxton.

Pertarungan di Texas disebut sebagai pertarungan Senat paling mahal dalam sejarah. Paxton, yang dikenal sebagai sekutu setia Trump, telah bertahun-tahun terperosok dalam tuduhan korupsi, skandal pribadi, hingga penipuan sekuritas.

Meski mendapat dukungan dana dari luar hingga mencapai US$300 juta atau lebih dari Rp5,4 triliun yang dipimpin Elon Musk, Talarico justru memimpin tipis dalam sebagian besar jajak pendapat. Analis politik Jacobs memandang Texas sebagai penentu arah Partai Republik pasca-Trump.

"Jika Paxton kalah, itu akan mengirimkan sinyal yang sangat kuat kepada para pemimpin Republik di masa depan tentang bagaimana mereka menangani imigrasi," kata Jacobs. "Hal ini membuktikan bahwa menyerang bagian pemilih yang tumbuh paling cepat adalah bunuh diri politik."

Jacobs menegaskan, "Texas adalah referendum yang menghancurkan bagi Donald Trump."

Di kubu Demokrat, mereka difavoritkan meraup empat kursi bersih untuk merebut DPR, tetapi jalan mengambil alih Senat masih terjal. Buruknya peringkat persetujuan Trump dan guncangan ekonomi akibat perang Iran membuat medan pertempuran Senat meluas hingga ke negara bagian yang sebelumnya memilih Trump dengan selisih dua digit pada 2024.

Di Ohio, mantan senator Demokrat Sherrod Brown kembali mencalonkan diri melawan petahana Republik Jon Husted. Brown memanfaatkan kemarahan kelas pekerja atas harga bahan bakar, penutupan pabrik, serta penolakan lokal terhadap pusat data.

Sementara itu di Michigan, tokoh Republik Mike Rogers berhadapan dengan politisi Demokrat Abdul El-Sayed. Dokter berusia 41 tahun itu berambisi menjadi senator Muslim pertama dalam sejarah AS. Pihak Republik agresif menargetkan El-Sayed atas pernyataan kebijakan luar negerinya, sementara Super PACs pro-Israel menggelontorkan jutaan dolar untuk mengalahkannya.

"El-Sayed adalah ujian terbesar bagi kaum progresif," tegas pakar politik Olsen. "Jika ia memenangkan posisi tingkat negara bagian di negara bagian jantung industri seperti Michigan, kaum progresif akan berpendapat bahwa mereka lebih unggul menuju tahun 2028."

Namun, pengamat politik Kamarck memperingatkan agar kekuatan progresif tidak diinterpretasikan berlebihan. "Kaum progresif hanyalah bagian kecil dari Partai Demokrat. Ini adalah cerita yang berlebihan," tuturnya.

Di Maine, senator veteran Republik Susan Collins berjuang mempertahankan karier politiknya melawan Troy Jackson dari Demokrat. Collins berusaha menjauh dari bayang-bayang Trump dan tampil bersama mantan senator independen Joe Manchin.

Di Alaska, politisi Demokrat Mary Peltola bersiap menantang senator Republik Dan Sullivan. Kontes di negara bagian itu diwarnai perselisihan hukum setelah Departemen Kehakiman AS berusaha memblokir sertifikasi yang memenangkan Peltola.