JAKARTA — Sekitar 1.000 mahasiswa Universitas Trisakti menggelar aksi demonstrasi di kawasan Patung Kuda, Jakarta, Kamis (29/10). Massa mulai mendatangi lokasi menjelang pukul 15.30 WIB dan secara bergantian menyampaikan orasi dari perwakilan masing-masing fakultas.
Aksi tersebut membawa tiga tuntutan yang mereka sebut sebagai Tritura. Pertama, pemulihan ekonomi, ekologi, politik, pendidikan, dan kesehatan nasional. Kedua, memberantas inkompetensi pejabat negara serta menghapus rangkap jabatan pejabat publik. Ketiga, menegakkan supremasi sipil.
Memasuki pukul 17.29 WIB, Staf Khusus Wakil Menteri Sekretaris Negara Binbin Firman Tresnadi datang menemui massa aksi. Dari atas mobil komando, ia menyatakan akan menyerap aspirasi masyarakat, termasuk tuntutan yang berkembang dalam demonstrasi hari itu.
Salah satu janji yang disampaikan Binbin adalah membebaskan biaya pengobatan bagi warga yang terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ia mengklaim akan meneruskan permintaan itu kepada menteri dan jajaran terkait.
"Memastikan bahwa setiap warga terdampak ISPA mendapatkan pelayanan rumah sakit tanpa dipungut biaya," ujar Binbin, seperti dikutip dari pernyataannya di lokasi.
Meski demikian, Binbin belum dapat memastikan kapan kebijakan tersebut akan berlaku. Ia hanya menyebut bahwa aturan itu akan diterapkan segera tanpa memberikan tenggat waktu yang jelas.
Bagi masyarakat di kawasan terdampak karhutla, janji pembebasan biaya pengobatan ini menjadi sorotan utama. Pasalnya, kabut asap akibat karhutla kerap memicu lonjakan penderita ISPA, terutama anak-anak dan lansia, yang selama ini harus menanggung biaya berobat sendiri.
Demo mahasiswa Trisakti ini menambah deretan aksi jalanan yang menuntut perbaikan tata kelola negara. Massa mahasiswa menilai persoalan ekonomi, ekologi, hingga kesehatan saling berkaitan dan membutuhkan respons konkret dari pemerintah, bukan sekadar janji di atas mobil komando.