Ketindihan Menurut Sains

Fenomena yang kerap disebut "ketindihan" bukan pengalaman mistis, melainkan gangguan tidur yang dikenal sebagai sleep paralysis. Menurut ahli neurologi dari Fakultas Kedokteran IPB University, Yeni Quinta Mondiani, tidur adalah penurunan kesadaran reversibel yang berulang dan merupakan proses fisiologis. Saat seseorang tidur, fungsi kognitif menurun secara global sehingga otak tidak bisa merespons penuh terhadap stimulus sekitar.

Siklus Tidur dan Fase REM

Siklus tidur manusia terbagi menjadi lima fase: empat fase Non-Rapid Eye Movement (NREM) dan satu fase Rapid Eye Movement (REM). Fase 3 dan 4 NREM merupakan tidur paling dalam yang berfungsi mengembalikan kesegaran tubuh dan restorasi setelah beraktivitas. Fase ini memiliki ambang tinggi untuk terbangun dan sering diasosiasikan dengan gangguan seperti sleep walking dan sleep terror. Sementara itu, fase REM adalah fase ketika mimpi bisa diingat, dan pada fase ini terjadi hambatan sinyal motorik yang sangat kuat sehingga hanya sedikit gerakan muncul.

Mengapa Sleep Paralysis Terjadi

Sleep paralysis termasuk parasomnia, yaitu keadaan terbangunnya tidur tanpa mengubah kualitas maupun kuantitas tidur. Gangguan ini berupa ketidakmampuan bergerak pada awal atau akhir tidur, meskipun subjek sudah terbangun. Pada fase REM, otot seharusnya tidak dapat digunakan saat tertidur. Saat sleep paralysis, tubuh masih berada dalam fase tidur, tetapi otak sudah aktif, sehingga orang merasa tidak bisa bergerak atau merasa sedang tertindih. Kondisi ini umumnya muncul pertama kali pada usia 15 hingga 35 tahun dan dapat muncul tidak menentu akibat kurang tidur, stres, gangguan kecemasan, faktor keturunan, serta kondisi medis seperti narkolepsi. Sebagian besar subjek tertidur dengan posisi terlentang dan tidak dapat bergerak, sekalipun napas dan jantung bergerak normal. Tiap episode biasanya berlangsung beberapa detik hingga menit.

Kesadaran, Rasa Takut, dan Halusinasi

Selama kejadian, orang yang mengalaminya memiliki kesadaran bahwa kejadian sedang berlangsung, tetapi tidak bisa bergerak. Ketidakmampuan itu sering memicu rasa takut, sehingga sebagian orang mengaitkannya dengan hal mistis. Gejala lain seperti halusinasi mungkin muncul, terutama jika penyebabnya adalah gangguan tidur narkolepsi. Namun, episode ini dapat berakhir secara spontan.

Penanganan dan Pencegahan

Orang yang mengalami sleep paralysis disarankan memperbaiki gaya hidup dan pola tidur. Sleep hygiene yang dapat diterapkan meliputi mengatur jam tidur dan bangun, membatasi konsumsi kafein, serta makanan berlemak atau cepat saji. Langkah lain adalah melakukan exercise ringan dan mengatur perangkat elektronik di sekitar kita. Apabila tidak membaik, konsultasi ke dokter disarankan jika kondisi cukup mengganggu aktivitas atau semakin sering. Dokter spesialis dapat memberikan obat antidepresan dan tata laksana untuk penyakit dasar seperti narkolepsi.