JAKARTA — Angka kemiskinan di DKI Jakarta untuk pertama kalinya menembus di bawah 4 persen. Berdasarkan data yang dirilis pada Maret 2026, persentase penduduk miskin ibu kota turun dari 4,03 persen menjadi 3,96 persen. Penurunan ini menjadi catatan sejarah baru bagi Jakarta karena baru kali ini angka kemiskinan berada di bawah ambang 4 persen.
Penurunan angka kemiskinan tersebut disertai dengan rencana pemberian pelatihan keterampilan bagi warga kurang mampu. Program pelatihan yang disiapkan meliputi keterampilan menjahit hingga kemampuan berbahasa asing. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing warga dalam mencari pekerjaan dan membuka peluang usaha mandiri.
Bagi masyarakat lokal, capaian ini membawa angin segar. Warga yang selama ini bergantung pada bantuan sosial kini memiliki kesempatan untuk dibekali keahlian praktis. Pelatihan menjahit dinilai relevan dengan kebutuhan industri tekstil dan konveksi yang cukup berkembang di Jakarta. Sementara itu, kemampuan bahasa asing menjadi nilai tambah di sektor jasa dan pariwisata.
Meski demikian, penurunan angka kemiskinan perlu diikuti dengan pemerataan kesejahteraan. Warga di kawasan padat penduduk berharap program pelatihan tidak hanya bersifat seremonial. Mereka menginginkan akses pelatihan yang mudah dijangkau, pendampingan usaha, serta bantuan permodalan agar keterampilan yang diperoleh dapat langsung diterapkan.
Pemerintah daerah disebut akan menyasar warga prasejahtera sebagai peserta utama pelatihan. Dengan pendekatan ini, diharapkan angka kemiskinan dapat terus ditekan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat lokal. Capaian 3,96 persen menjadi titik awal untuk memastikan tidak ada warga Jakarta yang tertinggal dalam pertumbuhan ekonomi kota.