Denpasar, Indo Fokus — Sekitar 300 perwakilan perusahaan energi dari 11 negara anggota ASEAN berkumpul di Bali dalam perhelatan tahunan ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE) ke-51. Indonesia menjadi tuan rumah selama tiga hari, 26-28 Oktober 2026, di The Meru Sanur, Bali.

Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza mengungkapkan bahwa pertemuan digelar di tengah eskalasi geopolitik global yang dinamis, termasuk dampak penutupan Selat Hormuz dan konflik Rusia-Ukraina. Kondisi itu berdampak langsung terhadap rantai pasok energi dunia sehingga negara-negara ASEAN perlu bertindak cepat mengamankan pasokan energi kawasan.

"Dalam diskusi tahunan ini kita berusaha untuk mendiskusikan hal-hal yang bisa kita lakukan untuk penyelamatan Indonesia, penyelamatan ASEAN, dan seterusnya," ujar Oki saat ditemui di sela acara, Selasa (27/10/2026).

Salah satu agenda utama pertemuan yakni merumuskan strategi memperkuat ketahanan energi nasional dan wilayah ASEAN. Oki menilai hal itu penting mengingat kondisi minyak mentah di kawasan ASEAN mengalami defisit.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

Forum juga membahas kelancaran perdagangan minyak mentah, bensin, LPG, hingga LNG, sekaligus mengikutsertakan negara mitra ASEAN+3, yaitu China, Jepang, dan Korea Selatan. Kerja sama itu untuk menjajaki pasokan dari negara yang memiliki surplus kapasitas kilang maupun produk energi.

Selain pengamanan pasokan, para pelaku industri energi se-ASEAN berdiskusi mengenai strategi meningkatkan daya tarik investasi di sektor hulu migas, infrastruktur, dan energi terbarukan. Langkah itu ditempuh melalui advokasi perbaikan skema fiskal yang tepat serta pemberian insentif eksplorasi.

"Kita mendiskusikan bagaimana agar fiskal untuk hulu semakin menarik untuk mengundang investasi dari seluruh dunia hadir di ASEAN ini," tambah Oki.

Pertemuan juga menaruh perhatian pada pengurangan jejak karbon melalui pemanfaatan emisi metana. Salah satu potensinya berasal dari pengolahan limbah cair, di mana Indonesia tercatat memiliki potensi biometan lebih dari 200 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) yang berpotensi dimonetisasi.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]

"Sebagai contoh untuk limbah cair ini di Indonesia saja kita punya potensi lebih dari 200 MMSCFD potensi biomethane yang bisa kita monetize," bebernya.

Sementara itu, ASCOPE Secretary in Charge (ASIC) Henricus Herwin mengungkapkan bahwa negara-negara ASEAN menghadapi tantangan serupa dalam mengelola aset hulu migas. Tantangan itu mulai dari mempertahankan keekonomian lapangan yang telah berproduksi puluhan tahun, mengembangkan peluang eksplorasi, hingga mengelola fasilitas yang mencapai akhir masa operasi (decommissioning).

"Kita berkumpul dalam forum ini untuk membantu kawasan kita memaksimalkan potensi setiap aset hulu minyak dan gas bumi sepanjang siklus hidupnya," ujar Henricus dalam pembukaan ASCOPE 51st Council Meeting di Sanur, Bali.

Henricus menjelaskan bahwa optimalisasi aset hulu migas membutuhkan pendekatan yang mencakup pemeliharaan produktivitas lapangan eksisting, pengembangan peluang eksplorasi, serta penutupan fasilitas secara aman, bertanggung jawab, dan efisien dari sisi biaya. Tantangan tersebut dinilai tidak harus dihadapi setiap negara secara terpisah, melainkan bisa dilakukan kerja sama melalui forum ASCOPE, terutama pertukaran data, bukti, dan pengalaman.

[Ruang Iklan: Di Dalam Artikel]